Makna Rabu abu kepada Difabel

hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. Karena, Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, maka jatuh pada hari Rabu.

“Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paskah, tanpa menghitung hari Minggu.

Ajakan untuk menyadari kehinaan manusia semakin terasa dalam proses peneraan abu di dahi. Apa sebenarnya makna peneraan abu? Dalam tradisi Yahudi, abu tidak hanya memiliki makna penyesalan dan pertobatan, perkabungan, tetapi juga punya makna keterbatasan atau ketidakabadian manusia. Cerita tentang abu ini banyak dijumpai dalam Kitab Suci. Muncul pertama kali dalam kisah penciptaan. Melalui kisah penciptaan itu diingatkan bahwa kita semua diciptakan dari abu atau debu tanah (Kejadian 2:7). Suatu saat nanti kita semua akan mati dan kembali menjadi abu. Rabu Abu, yang menandai dimulainya masa Pra-Paskah (40 hari sebelum Paskah), merupakan waktu penting perenungan, pertobatan, dan pemaknaan sengsara Yesus bagi umat Kristiani, termasuk gereja-gereja Protestan di Indonesia seperti GKPS dan Gereja Kesukuan lainnya.
Dalam konteks difabel Kristen Protestan, Rabu Abu membawa pesan mendalam tentang kesetaraan, penerimaan diri, dan kasih Allah yang tidak terbatas. Berikut adalah beberapa point penting
  • Kesetaraan dalam Kelemahan dan Penebusan: Abu yang dioleskan di dahi melambangkan bahwa semua manusia, baik difabel maupun non-difabel, sama-sama berasal dari debu dan membutuhkan anugerah penebusan Tuhan. Ini menekankan bahwa disabilitas bukanlah hukuman dosa, melainkan bagian dari keberagaman ciptaan yang berharga di mata Tuhan.
  • Yesus Memahami Keterbatasan: Masa Pra-Paskah berfokus pada perjalanan “Passion” (sengsara) Yesus. Bagi penyandang disabilitas, momen ini menjadi pengingat bahwa Yesus memahami rasa sakit, penolakan, dan keterbatasan fisik/mental yang mereka alami.
  • Komunitas yang Inklusif: Rabu Abu mendorong gereja untuk menjadi komunitas yang lebih inklusif. Pendampingan seperti yang dilakukan komunitas “Sahabat Divabel” atau “Rumah Dibel” menunjukkan pentingnya gereja memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi teman difabel untuk merayakan iman dan bertumbuh dalam kasih.
  • Refleksi Diri dan Harapan: Rabu Abu adalah ajakan untuk bertobat dan merenung, yang bagi kaum difabel dapat diterjemahkan sebagai waktu untuk menemukan kekuatan, menumbuhkan harapan, dan menegaskan kembali harga diri mereka sebagai citra Allah (Imago Dei).
  • Tujuan Spiritual :Momen Rabu Abu dijalani bukan saja untuk mengingat kematian Yesus, namun juga untuk membawa umat kepada kesadaran akan keberdosaan dirinya. Rabu Abu merupakan momen refleksi-introspeksi, yang bernuansa gelap/berkabung, namun penting, untuk merenungkan hal-hal apa saja yang perlu dipertobatkan dan diubah dalam kehidupan kita, demi menjadi Kristen yang sejati.
  • Makna Teologis Spesial: Dalam konteks disabilitas, Rabu Abu menjadi pengingat bahwa kekuatan Allah sempurna dalam kelemahan manusia (2 Korintus 12:9). Ini menekankan bahwa anugerah Allah bekerja melampaui keterbatasan fisik atau intelektua
  • Aksesibilitas dan Penerimaan (Inklusivitas): Gereja Protestan yang merayakan Rabu Abu (seperti GPIB, GKI, atau HKBP) diharapkan menyediakan ibadah yang inklusif. Ini berarti memastikan difabel dapat berpartisipasi dalam penorehan abu, baik melalui akses fisik ke gereja maupun pendampingan khusus
  • Warna liturgis Rabu Abu – sebagaimana warna liturgis untuk keseluruhan Masa Prapaskah – adalah warna ungu atau ungu tua. Warna ini menyimbolkan penderitaan dan penyaliban Yesus, begitu pula penderitaan manusia di dunia akibat kuasa dosa. Namun demikian, warna ungu juga menyimbolkan keagungan, yang melambangkan bahwa melalui penderitaan dan kematian Yesus, akan datang keagungan dan pengharapan pembaruan yang dirayakan dalam kebangkitan Yesus di hari raya Paskah.
Dengan demikian, Rabu Abu bagi difabel Kristen Protestan bukan sekadar ritual liturgis, melainkan perayaan penerimaan diri dan solidaritas komunitas dalam kasih Kristus,Rabu Abu adalah momen bagi gereja Protestan untuk menjadi komunitas yang lebih inklusif, memastikan bahwa setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, merasakan pengalaman spiritual pertobatan dan kasih Allah.
Gereja perlu melihat kaum disabilitas sebagai bagian dari tubuh Kristus yang penting. Keterbatasan mereka janganlah membuat mereka mengalami diskriminasi dalam pelayanan gereja. Mereka perlu diberi ruang untuk juga terlibat dalam kehidupan bergereja; mereka juga memiliki potensi yang perlu diupayakan atau dikembangkan. Dengan perhatian yang nyata dalam gereja maka Kaum disabilitas mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam pekerjaan gereja. Dalam pelayanan gereja, Kaum disabilitas menemukan bahwa Tuhan Yesus bukan hanya datang bagi mereka yang disebut normal tetapi Kristus pun ada bagi kaum disabilitas, Selamat Merayakan Hari Abu Bagi kita semua
Amin
Penulis St.Jhon Penta P.Siboro
Sumber: Wikipedia dan lainnya
related links
Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (RBM) GKPS
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2)

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu. Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2) Japaten Purba, seorang anak dengan Tuna Read more

Perayaan Natal RBM GKPS bersama para penyandang disabilitas/difabel Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat (RBM) adalah sebuah unit Read more

Perayaan Natal Pemuda GKPS Pansur dengan RBM

Ketua Panitia Natal Pemuda GKPS Pansur V, Daniel Hotdo Boy Munthe ANT3, Sekretaris, Cici Purba, Bendahara, Read more

PUSAT REHABILITASI DAN PELATIHAN PETUGAS LAPANGAN

Irencana hon RBM do adong Pusat Rehabilitasi aima na gabe ianan pelatihan, perkantoran, terapi pendidikan pnl. Domma dong lahan na Read more